Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

Friday, January 24, 2014

Malang Trip IV: Pulaanngg

Yang mengesankan tentang Malang adalah kecantikannya. Kotanya beneran membuat hati adem. Suasananya bikin betah.

Ketika di Malang, kami menginap di hotel Harris, dan Merbabu Guest House yang cantik. 
Ini sedikit foto dari Merbabu.

Dekorasi hotel dari bagian atas

tempat makan yang cantik
Malang menjadi spesial karena dua orang sahabat ada di sini. Teman yang tadinya hanya kenal dari Facebook, menerima kami dengan begitu tulusnya. Saya sangat berterima kasih karena telah bertemu dengan keluarga Sugiyopranoto dan keluarga Mas Anom ini. Mereka orang-orang spesial, orang-orang yang Tuhan pertemukan dengan kami, dan sampai hari ini kami tidak putus hubungan.

Mendapat kunjungan dari Kristien Yuliarti,
orang Jakarta yang sudah ganti KTP, dan suaminya Mas Anom
Pagi di stasiun, bye bye Malang! Terima kasih, Maria dan Pak Sugiyo!

Kami mau ke Solo, lho
Setelah dua malam di Malang, waktunya kami kembali ke Solo. Sekitar lima jam kami lewatkan di kereta api, anak-anak cukup manis, walaupun perjalanan pagi-siang ini sebenarnya berisiko, karena merupakan waktu-waktu aktif mereka. Mereka butuh hiburan! Dan, sebagai orang tua yang baik, kami harus memutar otak agar mereka tidak bosan di dalam perjalanan panjang tersebut.

Kami memesan mie goreng, nasi buk, nasi goreng, dari restorasi KIA. Walau rasanya standar cenderung seadanya, kami bisa makan dengan ucapan syukur, karena tahu tidak ada pilihan lain. Haha.

Bye, Malang! Semoga bisa mengunjungimu lagi suatu hari nanti.

Thursday, January 23, 2014

Malang Trip bag.3 - Jatim Park 2

Keren abis! Gitu pendapat kita tentang Jatim Park 2.

Pagi kami berangkat dari Malang, kemudian masuklah kami ke dalam antrian panjang menuju Jatim Park 2. Lagi-lagi tidak kebagian parkir di dalam, saya dan anak-anak turun dulu membeli tiket, sementara Papanya mencari tempat parkir.
Pintu masuk Pohon Inn, hotel di dalam kompleks Jatim Park II

Perhentian pertama kami adalah Museum Satwa. Jujur, rasanya saya belum pernah ke museum sebagus ini. Luar biasa seriusnya. Jelas ini adalah museum yang dikelola dengan profesional. Harga tiket masuknya sudah termasuk dalam tiket yang kami bayarkan, 100.000 per orang, Kimi yang berumur 3 tahun kurang, masih gratis.

Krucils di depan Museum Satwa
Saking kerennya, Museum Satwa ini bikin bangga
Diorama Jerapah dan habitatnya
Diorama-diorama dikerjakan dengan sangat niat
Foto wajib di Batu Secret Zoo
Ada balon yang terbang dan tidak turun lagi
Diorama Pasar Ikan ini keren banget, dengan lighting yang ciamik
Tempat main anak-anaknya gratis!

Berjemur sendiri, dan sudah sangat langka
Wah, mereka dari Sumatra, lho
,

main puas di sini
semacam Gajah Beledug di Dufan, tapi ini gurita :)
Koleksi binatang di Batu Secret Zoo ini menakjubkan. Harimau Siberia yang jumlahnya tidak banyak di dunia, mereka punya! Prairie dog jadi favorit anak-anak kami. Kimi apalagi, tertawa-tertawa melihat kelucuan mereka.

Monday, January 6, 2014

Malang Trip bag.1


Sejak jadi berlima, mengingat besarnya biaya yang harus dikeluarkan, kami jarang bisa pelesir ke tempat yang jauh (dan baru). Namun, tidak berarti kami harus stop sama sekali menjadi pelancong. Trick-nya tak lain tak bukan adalah mengoptimalkan kunjungan rutin ke Salatiga tiap akhir tahun.
Sudah lama saya ingin ke Jawa Timur, Malang khususnya. Saya selalu suka tempat sejuk dan indah. Jadilah, setelah membujuk sang suami, turun juga izin ke Malang. Maka, atas nama pengiritan tenaga dan uang, saya pesankan tiket kereta api yang berangkat dari Solo. Untuk kelas eksekutif tersedia tiga alternatif: Gajayana (dari Jakarta), Malabar (dari Bandung), dan Malioboro Ekspress/Moleks (dari Jogja). Alkisah, terpilihlah Moleks yang harganya jauh lebih ramah untuk family of five, 130-170rb/org, dan sepuluh persen untuk non-seat. Si bontot yang belum tiga tahun bisa dipesankan tiket infant.

Tiket saya pesan online lewat situs PT KAI. Bukti reservasi ini harus ditukarkan di stasiun KA terdekat, agar mendapat tiket sesungguhnya.

Stasiun Solo Balapan, menjelang pk 23.00, 26 Desember 2013
Moleks berangkat tepat pk. 23.10 dari Stasiun Solo Balapan, dan tiba pk. 05.15 keesokan harinya. Anak-anak bersemangat sekali, karena ini adalah perjalanan pertama mereka dengan kereta.  

AC-nya dingin luar biasa, terasa menyiksa hingga ke tulang untuk saya dan suami, namun tidak demikian dengan para krucil. Tidak butuh waktu lama bagi Kimi dan Chloe untuk segera terlelap setelah menyantap bolu gulung dan mengunyah beberapa kwaci biji bunga matahari. Si sulung Joel yang mencoba bertahan akhirnya menyerah, dan lelap juga hingga pagi. Mungkin mereka  kelelahan, karena sebelumnya kami menghadiri pernikahan seorang kerabat di Solo.

Sebelum mendapat pinjaman selimut
Sudah lama saya tidak melakukan perjalanan jauh dengan kereta api, terkenang dengan masa sekolah di Jogja dulu, tiap libur panjang saya akan naik kereta ke Jakarta, singgah beberapa hari di rumah saudara, dan dilanjutkan dengan perjalanan ke Bangka, entah naik pesawat atau naik kapal laut.

KA langganan saya dulu adalah Senja Utama kelas bisnis (belum mampu beli yang eksekutif), sengaja pilih malam, biar tidak terlalu panas, dan bisa tidur di kereta.
Itu dulu. Sekarang saya ingin anak-anak mengalaminya juga, perjalanan yang santai dan tentu, harus belajar memanajemen rasa bosan. Saya bahkan tidak mau repot-repot membawa iPad. Bosan itu perlu diberikan dalam dosis yang tepat. ;)

Beberapa kali kereta kami berhenti, beberapa nama stasiun sempat terlihat. Madiun, Kediri, Tulungagung, Blitar, wah, rasanya menakjubkan. Selalu ada perasaan istimewa tiap melewati tempat yang belum pernah disinggahi. Belum kujejak, tapi sudah kulintasi.

Good morning, Malang!
Pagi itu kami disambut semburatnya sinar mentari pagi dari balik jendela kereta. Awan yang melingkupi Semeru sungguh indah. Cantik banget kota Malang ini, tidak sabar lagi ingin bertemu.

Sekitar pukul 5 pagi, kereta pun berhenti di stasiun Malang. Stasiunnya tidak besar, mungkin sama dengan Solo Balapan, tidak sebesar stasiun Tugu di Jogja. Stasiunnya lucu, begitu keluar dari gerbang, kita sudah akan langsung berjumpa dengan penjual makanan, tukang becak, angkot, dan lain-lain, tidak ada pagar. 

Persis di luar stasiun Malang

Sahabat saya di Malang, Maria Kristanti, sudah berpesan bahwa suaminya akan datang menjembatani urusan kami dengan pihak rental mobil. Mas Sugiyo Pranoto sudah menanti kami di tempat parkir. Karena ada kesalahpahaman dari pihak rental, akhirnya kami naik taksi ke rumah Sugiyo-Maria. Atas kebaikan hati keluarga ini, kami mendapat tumpangan untuk beristirahat sembari menunggu waktu check-in hotel tiba. Keramahan mereka sungguh jadi berkat bagi rombongan musafir ini. Kami yang tidak punya sanak-saudara di kota ini sungguh terharu mendapat kehangatan sedemikian rupa.

Tak jauh dari rumah Maria, Joel berpose di depan kebun jagung. Gn. Butak & Gn. Kawi di latar belakang.
Joel-Chloe-Grace bermain di pematang sawah. Grace sedang berperan sebagai Maria yang membawa bayi Yesus.
Duo mungil juga tak mau kalah bersosialisasi. Kimi yang tidur dari Solo dan baru terbangun sekitar pk. 9, menyuapi Adik Louie biskuit.

Foto bersama keluarga Sugiyo Pranoto

Sekarang saatnya menjajal kuliner Malang. Saya yang kepingin bakwan, diajak ke Bakwan Subur di daerah Langsep oleh pasangan Maria-Sugiyo. Wah, ngiler liat gorengannya. Semua jenis bakso diberi harga pukul rata, Rp2.000 saja. Murah, karena rasanya sangat pantas. Pampi & Joel pesan jeroan. Saya? Baunya saja sudah bikin menggigil, apalagi harus dimakan. No. O ya, bakwan ini tidak halal.


Pesan langsung di depan gerobak
Jenis gorengannya
Setelah makan di sini, kami mengantar keluarga Sugiyo kembali ke rumah mereka. Kami segera meneruskan perjalanan ke hotel Harris yang letaknya ternyata cukup jauh di pinggiran kota Malang.

Hotelnya sendiri cantik dan minimalis, pas betul dengan selera saya. Jalan menuju hotel agak jauh, karena Hotel Harris terletak dalam sebuah kompleks yang nampaknya elit.
Ah, istirahat dulu. Kami berencana ke Batu Night Spectacular nanti sore.